Terima Notifikasi Berita Terkini. 👉 Join Telegram Channel.

Curhatan Jokowi Atas Perilaku Menteri yang Suka ‘Sambat’

Presiden Joko Widodo sedang memberikan pidato. (Sumber: Instagram)

ANDALPOST.COM – Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan kalimat yang cukup menohok pada Seminar Outlook Perekonomian Indonesia 2023 di Ritz Carlton, Jakarta, Rabu (21/12/2022).

Diakhir masa jabatannya, Presiden Jokowi memang menghadapi berbagai permasalahan yang cukup pelik. Sebagai seorang presiden, jelas setiap titik penyelesaian selalu bermuara di Jokowi. Termasuk permasalahan yang dialami oleh setiap kabinetnya, terkhususnya para menteri.

Dalam acara tersebut, Jokowi sedikit mengeluhkan sikap para menteri yang selalu curhat soal problematika di pekerjaannya. Walau setiap menteri telah diberi wewenang dan tugas masing-masing, namun hal ini tidak menghindarkan Jokowi sebagai tempat curhat.

Bahkan dalam kesempatan di seminar tersebut Jokowi, mengklaim bahwa saat terjadi problematika, dirinya selalu diseret. Tetapi jika sedang berbahagia, Jokowi merasa diabaikan dan tidak di ajak.

“Yang pusing-pusing biasanya diberikan pada saya. Kalau yang masalah, yang problem, menteri-menteri itu mesti menghadap ke saya. Tapi kalau yang enak-enak, kayak kemarin nyanyi-nyanyi, makan-makan, tidak pernah mengajak saya,” ujar Jokowi saat menghadiri Seminar Outlook Perekonomian Indonesia 2023 di Ritz Carlton.

Meski hanya sebatas guyonan, bisa saja itu menjadi sindiran satir atas kinerja para menterinya. Jika hal ini dibiarkan, maka bisa saja sikap tersebut akan menjadi bahaya. Terutama dalam menghadapi tantangan ancaman krisis 2023 mendatang.

Oleh karena itu, Jokowi mendorong kepada menteri Kabinet Indonesia Maju agar berani memikirkan strategi. Arti berani yang ia katakan bisa dimaksudkan sebagai kemampuan dalam mengambil keputusan yang bijak dan langkah strategis tanpa melulu tergantung kepada Presiden.

Hal ini dikhususkan terutama dalam menyusun skenario untuk meningkatkan perekonomian di tengah ancaman krisis yang akan datang.

“Situasi yang kita hadapi sekarang ini bukan situasi yang gampang, situasinya sangat sulit diprediksi, sulit dihitung dan teori-teori standar. Semuanya sudah sulit untuk kita pakai lagi, karena semuanya ini keluar tidak berdasarkan pakem-pakem yang ada,” ujarnya.

Jokowi menekankan bahwa setiap menteri harus kreatif dalam menyusun kebijakan-kebijakan yang relevan. Pasalnya, situasi sejak dirinya menjabat begitu sulit terutama soal ekonomi.

Belum ditambah dengan negara Indonesia yang masuk ke dalam lima negara rentan terkena ancaman resesi dan terpuruk.

“Betul-betul situasi yang sangat sulit dan kita tahu di 2014-2015 kita ini masih masuk dalam fragile fight, kita masih dimasukkan dalam negara yang rentan untuk terpuruk bersama lima negara yang lain,” lanjut Jokowi.

Peran ekonomi makro menjadi kunci untuk menyelamatkan Indonesia atas ancaman tersebut. Oleh karena itu menteri harus punya ketegasan dalam melakukan reformasi struktural.

Jika terdapat struktur yang masih kolot dan menggunakan pakem-pakem lama dalam menyusun aturan, tentu akan membahayakan ekonomi makro Indonesia. Mereka juga rentan dalam berbuat tidak bijak untuk membelanjakan uang negara dengan tidak produktif.

“Kembali lagi, kemampuan domestik kita harus betul-betul kita garap dan salah satu hal penting yang kita lakukan adalah hilirisasi. Kalau semua provinsi melakukan hilirisasi, industrialisasi, inilah reformasi struktural riil yang ingin kita lakukan,” ungkapnya.

Menurut Jokowi, sangat penting bagi setiap menteri punya pikiran yang selalu terbuka. Hal ini agar mereka bisa melihat setiap celah potensi dalam negeri dalam merespon perkembangan jaman.

Selain itu, ia juga mengimbau para menteri untuk tidak boleh mengabaikan potensi-potensi domestik di setiap industrial daerah. Hal inilah yang menjadi dasar dari improvisasi undang-undang yang dibuat oleh para menteri di pusat.

“Mengubah di hulu undang-undangnya, kemudian implementasikannya dalam pelaksanaan. Yang sulit memang di sini dan terus ini yang akan kita lakukan,” tandasnya.

(PAM/MIC)