Matt Taibbi kemudian juga menjelaskan bahwa ia mendapatkan peringatan saat menyebarkan tautan Substack di Twitter. Namun, mendapatkan opsi pilihan untuk memposting artikel di Twitter.
Elon musk kemudian memberikan balasan, mengatakan tautan Substack tidak pernah dibatasi atau diblokir sehingga ia menganggap pernyataan Matt Taibbi tidak benar.
Kemudian, Elon menjelaskan, bahwa alamat IP yang dimiliki Substack tidak dapat dipercaya karena mencoba mengunduh sebagian besar database Twitter untuk mem-bootstrap klon Twitter mereka.
Elon Musk juga berasumsi, bahwa Matt Taibbi merupakan salah satu pegawai dari Substack. Sehingga menuduh pemblokiran Twitter terhadap akses Substack.
Tanggapan CEO Substack
Chris Best selaku CEO Substack pun membalas pernyataan Elon Musk tersebut melalui Substack Notes. Ia menegaskan, bahwa ketiga pernyatan Elon tersebut tidak ada yang benar.
Christ Best mengatakan bahwa tautan Substack di Twitter memang dibatasi karena pengguna sendiri tidak bisa mengakses tautan Substack di Twitter.
“Tautan substack jelas sangat dibatasi di Twitter. Siapa pun yang menggunakan produk dapat melihat ini,” tulis Chris Best dalam Substack Notes, dikutip dari The Verge.
Substack telah menggunakan API Twitter bertahun-tahun, tetapi Twitter tidak pernah memberi tahu perusahaan mengenai dugaan pelanggaran yang dilakukan.
“Kami telah menggunakan Twitter API, selama bertahun-tahun, untuk membantu para penulis. Kami yakin kami telah mematuhi persyaratan, tetapi jika mereka memiliki masalah khusus, kami ingin mengetahuinya,” tulis Chris Best dalam Substack Notes, dikutip dari The Verge. (lfr/ads)