Terima Notifikasi Berita Terkini. 👉 Join Telegram Channel.

Lebanon Khawatir Terjadi Perang Regional Seiring Meningkatnya Pertempuran Hizbullah-Israel

Asap membumbung di cakrawala di sepanjang perbatasan Israel-Lebanon, ketika pertempuran terus berlanjut antara Hizbullah dan militer Israel. (Violeta Santos Moura/Reuters)

ANDALPOST.COM — Lebanon semakin ketakutan terjadinya pertempuran antara kelompok bersenjata antara Hizbullah dan Israel, Selasa (31/10/2023). Bahkan saat banyak warga yang bersimpati dengan Palestina akibat perang Israel-Hamas.

Dalam beberapa hari terakhir, kelompok bersenjata Lebanon dan Israel telah melancarkan serangan lebih jauh ke wilayah masing-masing.

Peningkatan dari pertempuran sebelumnya yang terbatas di wilayah perbatasan Israel-Lebanon.

Serangan-serangan tersebut terutama menargetkan pos-pos militer dan pejuang, meskipun ada beberapa korban sipil.

Sebagian besar desa di Lebanon yang menjadi lokasi baku tembak pun telah kosong. Banyak dari penduduknya melarikan diri ke markas Hizbullah di pinggiran ibu kota Beirut.

“Saya sangat berharap perang habis-habisan tidak dimulai karena perang tidak akan pernah berhenti,” kata Elie Khour (30).

“Kami tidak akan mampu menanganinya (secara ekonomi). Kami bahkan tidak memiliki cukup obat-obatan dan kekurangan jarum suntik di rumah sakit,” imbuhnya.

Sebuah petisi online, yang telah ditandatangani 8.939 orang, menyerukan kepada pemerintah Lebanon agar tidak terseret ke dalam perang tersebut.

Laporan ini memperingatkan bahwa Lebanon bisa berubah menjadi medan pertempuran perang proksi yang dilakukan oleh kekuatan asing.

Namun, beberapa warga mengatakan mereka akan mendukung Lebanon mengambil sikap yang lebih agresif. Mengingat tingginya angka kematian akibat serangan Israel di Gaza.

Lebih dari 8.000 warga Palestina telah tewas dalam pemboman Israel yang sedang berlangsung, menurut Kementerian Kesehatan Gaza. Dari jumlah tersebut, 3.195 di antaranya adalah anak-anak. 

Jumlah tersebut lebih tinggi dari jumlah total anak yang terbunuh di zona konflik di seluruh dunia setiap tahunnya sejak tahun 2019, menurut organisasi non-pemerintah Save the Children.

“Israel membunuh anak-anak. Apa yang terjadi di Gaza bukanlah perang. Ini adalah pembantaian,” kata Jack Topalian, pemilik kedai kopi di Beirut. 

“Bagaimana kita bisa diam saja?” imbuhnya.

Hizbullah dan Israel

Hizbullah dan Israel sejauh ini menghindari serangan terhadap pusat-pusat kota besar di wilayah masing-masing.

Pendukung berduka atas kematian anggota Hizbullah dalam pertempuran di Lebanon selatan saat pemakamannya di Chaqra pada 30 Oktober. (Foto: Zohra Bensemra/Reuters)

“Keduanya telah mengevakuasi desa-desa untuk membatasi jumlah korban jiwa,” kata Randa Slim, pakar Lebanon di Middle East Institute. Meski begitu, ia mencatat bahwa peningkatan kekerasan masih mengkhawatirkan.

Simak selengkapnya di halaman berikutnya.