Terima Notifikasi Berita Terkini. 👉 Join Telegram Channel.

Petugas Medis Gaza Kewalahan Tangani Pasien Akibat Perang Hamas vs Israel

Seorang warga Palestina yang terluka dalam serangan Israel dibawa ke Rumah Sakit Shifa di Kota Gaza. (Foto: Ali Mahmoud/AP)

ANDALPOST.COM — Perang antara Hamas dan Israel menyebabkan ratusan warga menjadi korban, Minggu (15/10/2023). Alhasil, petugas medis Gaza mengaku kewalahan dalam menangani pasien.

Menurut Dr Nisreen al-Shorafa, dirinya hanya tidur selama 10 jam dalam tujuh hari terakhir. Ahli bedah berusia 30 tahun ini mengelola ruang gawat darurat di Rumah Sakit Al Awda di Tal al-Zaatar, antara Beit Lahia dan Beit Hanoun.

Bahkan, ia terpaksa bekerja lebih keras sejak perang tersebut terjadi. Kendati begitu, ia mendedikasikan sepenuhnya untuk membantu menyelamatkan orang-orang dari pemboman Israel yang tiada henti.

Bahkan, al-Shorafa terus mendorong dirinya untuk bekerja keras dalam merawat pasien.

Pada hari Sabtu (14/10/2023), rumah sakit mulai menerima panggilan peringatan dari militer Israel.

“Saya yakin mereka tentara Israel bangga pada diri mereka sendiri, mengancam akan mengebom rumah sakit tersebut,” kata perawat warga Asala al-Batsh.

“Mereka bersikeras agar semua orang dan segalanya bergerak. Seluruh personel rumah sakit, semua pasien, termasuk yang berada di ICU, dan jenazah di kamar mayat,” imbuhnya.

Setelah mencoba menjelaskan kepada tentara Israel melalui telepon tentang ketidakmanusiawian dan ketidakmungkinan mengeluarkan semua orang dari rumah sakit dan menuju ke selatan, tim tersebut menyerah.

“Kami memutuskan untuk tidak pergi,” kata al-Shorafa.

“Dewan direksi rumah sakit tidak tahu apakah kami akan dibom atau tidak. Tapi mereka yakin kami melakukan hal yang benar.”

“Kami benar sekali dalam mengindahkan panggilan tugas; sebagai dokter, sebagai perawat, kita semua perlu bersatu di saat seperti ini,” terang dia.

Kewalahan

Selain berfungsi untuk merawat para korban, rumah sakit tersebut juga membuka pintunya bagi mereka yang melarikan diri dari kehancuran dan mencari tempat aman guna berlindung.

Banyak orang takut untuk memenuhi permintaan Israel agar mereka menuju ke selatan karena konvoi evakuasi korban serangan.

Bahkan, para petugas medis, meliputi dokter serta pasien mengaku takut jika mencoba pergi karena khawatir akan terbunuh di jalan.

Maka mereka berkumpul bersama, kurang tidur dan kekurangan makanan serta air.

Simak selengkapnya di halaman berikutnya.