Terima Notifikasi Berita Terkini. 👉 Join Telegram Channel.

Filipina Tuduh China Tembak Meriam Air ke Kapalnya di Laut China Selatan 

Foto yang diambil oleh Penjaga Pantai Filipina yang menunjukkan tampaknya sebuah kapal Penjaga Pantai China memblokir jalurnya selama misi pasokan ulang di Laut China Selatan pada Sabtu, 5 Agustus. (Sumber: Penjaga Pantai Filipina/AP via CNN)

ANDALPOST.COM — Penjaga Pantai Filipina mengeluarkan tuduhan bahwa mitranya dari China, telah menembakkan meriam air ke kapal-kapalnya.

Tidak hanya itu, China juga dituduh telah menghalangi mereka di Laut China Selatan yang disengketakan.

Dijelaskan bahwa hal ini terjadi ketika kapalnya sedang mengawal kapal yang membawa perbekalan untuk tentara Filipina yang ditempatkan di salah satu Kepulauan Spratly yang diperebutkan.

Sejauh ini, China belum secara terbuka berkomentar mengenai insiden yang dilaporkan.

Beijing mengklaim hampir seluruh Laut China Selatan, termasuk Spratly, yang juga sama-sama diklaim sebagian oleh Filipina.

Di samping Filipina, ada juga beberapa negara yang juga bersaing untuk mengklaim daerah tersebut yaitu Malaysia, Vietnam, Brunei, dan Taiwan.

Gangguan

Penjaga Pantai Filipina (PCG) dalam pernyataannya, mengatakan bahwa insiden tersebut terjadi pada hari Sabtu (05/08/2023), ketika kapal-kapalnya sedang diperjalanan menuju Second Thomas Shoal di Kepulauan Spratly.

Pihaknya menggambarkan tindakan China sebagai “berlebihan dan melanggar hukum”. PCG juga menambahkan bahwa China juga telah melanggar hukum internasional.

PCG dalam pernyataannya di akun Facebook resmi juga menjelaskan bahwa China mengganggu pelaksanaan kebebasan navigasi laut lepas Filipina.

“Penjaga Pantai Filipina (PCG) mengutuk keras manuver berbahaya Penjaga Pantai China (CCG) dan penggunaan meriam air secara ilegal terhadap kapal PCG,” tulisnya.

“Menembakkan meriam air dan menggunakan manuver pemblokiran yang tidak aman, kapal-kapal RRC [China] mengganggu pelaksanaan kebebasan navigasi laut lepas Filipina yang sah dan membahayakan keselamatan kapal dan awak Filipina,” katanya.

China dalam hal ini, mengabaikan putusan pengadilan arbitrase internasional bahwa klaimnya atas hampir seluruh Laut China Selatan tidak beralasan.

Laut China Selatan kini menjadi salah satu titik nyala terbesar di dunia. Terutama karena adanya ketegangan antara AS dan China yang telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Akses ke perairan ini merupakan kunci untuk mempertahankan Taiwan pada saat klaim China atau pulau yang memiliki pemerintahan sendiri itu semakin intensif.

Perairan tersebut juga merupakan tuan rumah bagi perdagangan global senilai $5 triliun atau setara dengan £4 triliun setiap tahun.

Hal ini meningkatkan kekhawatiran bahwa jejak Beijing yang meningkat memiliki kemungkinan untuk membatasi perdagangan.

Simak selengkapnya di halaman berikutnya.