Terima Notifikasi Berita Terkini. 👉 Join Telegram Channel.

Pengungsi Ukraina di Amerika Serikat Sebut Tidak Punya Tempat Untuk Kembali

Setelah Rusia menginvasi Ukraina, banyak penduduk yang mengungsi di Amerika Serikat. (Design by @jauhras)

ANDALPOST.COM – Pengungsi Ukraina di Amerika Serikat (AS) mengatakan bahwa mereka tidak punya tempat untuk kembali setelah terjadinya invasi Rusia ke Ukraina sejak awal tahun. Salah satu pengungsi tersebut ialah Olena Galushko, ibu dari tiga anak yang tinggal di kota Bucha, Ukraina.

Pada tanggal 23 Februari 2022, atau satu hari sebelum perang antara Ukraina dan Rusia terjadi, Olena Galushko mengemasi tiga koper, mengumpulkan keluarganya, dan pergi meninggalkan rumah mereka.

Galushko juga membawa ketiga anaknya yang berusia 5, 10, dan 14 tahun untuk pergi ke Polandia. Ia mengaku bahwa perjalanan tersebut merupakan perjalanan yang melelahkan dan menghabiskan fisik dan emosionalnya. Terlebih ketika mereka mulai hidup sebagai pengungsi.

“Kami mengerti ini akan menjadi perjalanan yang sulit, tetapi kami tetap mengambil risiko,” terang Galushko kepada wartawan Al Jazeera.

Setelah Rusia menginvasi Ukraina, pejabat negara dan asosiasi kemanusiaan di seluruh AS memang telah bersiap untuk menerima pengungsi perang.

Galushko menempuh perjalanan hingga ia dan keluargnya sampai ke Polandia. Kemudian, berlanjut hingga ke Mexico City, hingga akhirnya Galushko dan keluarganya tiba di Tijuana, sebuah kota di selatan perbatasan Amerika Serikat (AS).

Perempuan itu kemudian kembali melanjutkan perjalanannya. Kota tujuannya adalah ibu kota California, tempat di mana temannya tinggal.

“Dengan banyak pemberhentian, akhirnya kami berhasil sampai ke Tijuana,” sambungnya, “penerbangannya sangat sulit dan sangat emosional,” ujar Galushko.

Pada bulan April lalu atau dua bulan setelah perang Rusia-Ukraina, Presiden AS, Joe Biden, memiliki inisiatif andal yang bertajuk ‘Bersatu Untuk Ukraina’. Inisiatif tersebut memungkinkann 100.000 warga Ukraina yang terlantar akibat invasi Rusia untuk mengungsi ke AS.

Sekitar 85.000 orang dilaporkan telah ikut dalam program tersebut. Mereka dapat tinggal di AS selama dua tahun lamanya. Namun Galushko beserta keluarganya memulai perjalanan mereka jauh sebelum adanya program dari Joe Biden tersebut.

‘Meninggalkan Segalanya’

Negara bagian New York telah menerima jutaan dana federal untuk membantu sekitar 14.000 pengungsi Ukraina. Sedangkan, Virginia dilaporkan telah menerima lebih dari 2.700 pengungsi Ukraina dalam kurun waktu satu bulan saja.

Di Colorado, pejabat negara bagian telah membentuk Gugus Tugas Migran Ukraina di mana pada akhir Oktober lalu, hampir 600 pengungsi telah mendaftar. Hal tersebut diungkap oleh Meg Sagaria-Barritt, koordinator Program Layanan Pengungsi Colorado.

Sementara itu, arus pengungsi Ukraina masih sangat dramatis di California. Galina Prozorova, mantan manajer program yang berbasis di Sacramento dengan Komite Penyelamatan Internasional (IRC), mengatakan bahwa lebih dari 20.000 warga Ukraina telah menyeberang ke negara bagian itu dari Meksiko sejak perang kian memuncak.

“Ada peningkatan yang signifikan di bulan Maret dan April. Orang-orang benar-benar berlarian dan meninggalkan segalanya,” kata Prozorova.

Ia juga mengatakan bahwa warga Ukraina yang tiba di Meksiko terlihat emosional. Meskipun begitu, mereka tetap mencoba untuk bersemangant mertahankan hidupnya.

“Ada juga banyak trauma emosional dari semua yang mereka lihat selama perang,” imbuh Prozorova.

Trauma tersebut semakin parah karena mereka memiliki pengalaman buruk selama berada di Meksiko. Termasuk pencurian identitas, eksploitasi seksual, serta perdagangan manusia.

“Perdagangan manusia muncul di kota Meksiko, di perbatasan AS, dengan menawarkan berbagai layanan dan memperkenalkan diri sebagai agen,” ujar Prozorova, “bahkan beberapa pemuda Ukraina menghilang sejak adanya kasus tersebut,” tambahnya.

Begitu pengungsi tiba di AS, Prozorova mengungkapkan bahwa IRC sudah berusaha melakukan apa yang dapat dilakukan untuk membantu pendidikan, penempatan kerja, dan tempat tinggal bagi mereka.

Namun selama prosesnya, sejumlah tantangan dan permasalahan kerap terjadi. Hal ini disebabkan karena jumlah petugas masih sangat terbatas dalam penanganan untuk para pengungsi Ukraina.

(SPM/MIC)