Terima Notifikasi Berita Terkini. 👉 Join Telegram Channel.

Peru Tutup Situs Machu Picchu, Dampak Protes Anti-Pemerintah yang Masih Berlanjut

Penamapakan situs bersejarah Peru bernama Machi Picchu. (Sumber: Alessandro Cinque/Reuters)

Kerusuhan yang terjadi hingga kini di Peru dipicu oleh gagasan mantan presiden Pedro Castillo pada Desember lalu untuk membubarkan Kongres. Gagasan Pedro itu disebut pihak mahkamah konstitusi sebagai “kudeta”.

Usai pemecatan Pedro Castillo, bahkan penangkapannya, Dina Boluarte pun kemudian menduduki kursi nomor satu negara Peru. Namun, hal itu justru memicu kemarahan pendukung Pedro Castillo.

Seperti diketahui, Pedro Castillo merupakan mantan presiden peru yang tidak memiliki latar belakang politik sebelumnya. Sebelum menjadi presiden, Castillo merupakan seorang guru sekolah dasar. Ia kemudian mulai melenggang ke kursi presiden pada tahun 2021 lalu.

Latar belakang Castillo yang merupakan putra dari seorang petani buta huruf juga menjadi ikon rakyat di antara banyak orang Peru berpenghasilan rendah.

Penutupan Machu Picchu

Layanan kereta api ke situs Machu Picchu sebelumnya ditangguhkan usai jalurnya dirusak oleh para pengunjuk rasa. Kemudian, disusul dengan penutupan Machu Picchu pada Sabtu (21/1/2023).

Sayangnya, penangguhan itu menyebabkan 400 orang, termasuk 300 orang asing, terdampar di kota Aguas Calientes, di tepi situs Machu Picchu. Mereka pun memohon untuk dilakukan evakuasi.

“Kami tidak tahu apakah kereta akan menjemput kami. Semua turis di sini mengantri untuk dievakuasi,” ujar turis Chile Alem Lopez.

Di sisi lain, menteri pariwisata Luis Fernando Helguero mengungkapkan sejumlah turis lebih memilih berjalan kaki ke Piscacucho, kota terdekat dengan Machu Picchu.

Helguero juga mengatakan perjalanan tersebut akan memakan waktu enam jam atau lebih dan sangat sedikit orang yang dapat melakukannya.

(SPM/MIC)